Based on strory. Beberapa
hari lalu adalah awal bulan. Hari kebahagian seluruh masyarakat yang
telah bekerja keras selama sebulan. Tidak terkecuali aku yang juga
menerima gaji tepat tanggal 2 kemarin.
Dihari itu juga aku
langsung membeli banyak barang yang telah kutargetkan sebeumnya. Lalu
membayar utang. Dan keperluan pribadi lain-lain. Hitungan jam, upah
bulanan ku sudah tinggal 150.000. Hebat!.
Ini bukan cerita
tentang curhatku yang merasa gaji kurang. Jadi begini ceritanya. Sesuai
dengan ikrar kami kemarin-kemarin. Aku dan teman susah senang ku ‘Ayub’.
Akan pergi ke Medan Fair. Plaza yang lebih sering di sapa dengan nama
Carefour. Bukan niat hangout atau hura-hura. Tujuan kami hanya Gramedia
yang berada dilantai 3.
Perjalanan kurang lebih 1 jam menaiki
angkutan umum. Dan kami turun tepat di bawah jembatan penyebrangan yang
telah di modif oleh pihak Medan Fair. Seperti pengunjung lainnya kami
memasuki plaza itu melalui jembatan penyebrangannya. Tidak ada yang
tampak berubah saat aku melirik ke kiri dan kenan. Hampir sama ketika 2
atau 3 tahun yang lalu.
Aku dan Ayub akhirnya tiba di gedung
utama Medan Fair. Kami akan menaiki eskalator pertama kami. Tapi disaat
dipertengahan eskalator. Seseorang memanggil ku dari arah bawah.
“bang!”, sambil menggerak kan jemari ala orang yang sedang memanggil.
Aku sendiri masih heran. Dia memanggil siapa. Tapi posisi sekarang
hanya aku dan Ayub di eskalator itu. Aku pun yakin dia memanggil kami.
“adapa bang?”, tanyaku
“Yok bang kau ikut aku. Anggota kami disini ada yang bocor kepalanya. Perutnya juga ditusuk”
“kami baru nyampe. Belum sempat kami bocorin kepala orang. Apalagi nyucuk perutnya bang.”
“banyak kali cakap kau. Aku ga nuduh kau. Pokoknya kau datang dulu ke pos kami.”
Ayub terpaku mendengar dialog kami, ia tidak tau harus berkata apa.
“Kalau kata korbannya bukan kau. Yauda kau balik lagi.”, ucap pria misterius ini lagi.
Aku menimbang nimbang. Yasudahlah, kalau tidak salah kenapa harus
takut. Aku pun mengangguk. Dan kami ber-3 menuruti eskalator yang baru
saja kami naiki. Setelah turun dari eskalator. Si pria misterius
menyuruh Ayub untuk menunggu disini saja. Alasan nya ia hanya perlu
denganku sebentar saja.
Aku dan pria misterius kembali menapaki jembatan penyebrangan.
“jauh bang?”
“engga. Di belakang menplaz ini pos kami.”
“kawan aku kok ga dicurigai juga bang?”
“ia
nanti ada kawan aku yang bawa dia juga. Jumpa nya kelen nanti di pos
itu. Kami ada tigapuluh orang didalam gedung itu. Masing-masing bawa
satu orang seumuran kau gini”
Dari sini aku udah mulai curiga. Kenapa harus satu kalau bisa dua.
“uda bang. Aku tunggu disini aja. Orang abang aja yang kemari.”
“kek k*nt*l pun kau. Sapa kali kau rupanya. Jangan –jangan memang kau yang mecahkan kepala adek2an aku.”
Sentak-an nya langsung membuatku diam.
“jangan macam-macam kau. Aku ketua disini. Kalau aku suruh orang-orang sini bacok kau. Mau bilang apa kau?”
“jangan bang. Maaf bang. iya aku ikut”
“jadi
kalau mau ditolong diam. Ikutin aja. Bukan kau yang dituduh. Tapi cuman
dicurigai aja. Kalau bukan kau katanya yauda ku antar lagi kau kemari
naik becak mesin.”
Setelah itu entah kenapa otakku tidak bisa
berpikir lagi. Aku mengikuti dia terus dengan berjalan kaki. Dia terus
menanyaiku tentang namaku, agamaku, keluargaku, pendidikanku, sampai
pekerjaan orang tua ku. Sampai kami tiba disebuah gang kecil. Kami duduk
berhadapan di depan rumah yang entah siapa pemiliknya.
“Bentar lagi kau jumpa sama anggota-anggota aku. Kau jelasi aja kalau memang bukan kau yang ngapain”
“iya bang”
“jangan bilang kau orang belawan. Bilang aja orang brayan. Dipukulin kau nanti.”
“iya bang”
“duduk sini kau bentar. Aku beli rokok”
“iya bang”
Sampai aku tidak tahu lagi itu ‘iya bang’ yang keberapa.
“kau uda makan?”
“iya bang”
“aku tanyak kau uda makan apa belum bodoh!”
“eh belum bang.”
“uda selow kau. nanti makan kita disana”
“iya bang”
Aku diam saat ia berhenti bertanya. Aku juga gatau kenapa. Ia masih sibuk dengan hisapan rokoknya.
“Apa yang kau bawa dalam tas?”
“cuman buku bang”
Lalu ia memegang tasku. Baru percaya tasku memang berisi satu buku tulis.
“hp kau ada?”
“ga punya hp aku bang”
“dompet kau mana?”
“disini bang”, sambil menunjukan saku celanaku.
“Adoh kimaknya ni. Jangan kau letak situ. Cepat kau rondok-in. Nanti berantam aku sama kawan aku. Cuman gara-gara bela kau”
“oh iya bang.”, lalu aku mengeluarkan dompet yang tadinya di saku. Lalu memasukinya ke dalam tas.
“bodoh kali kau. Di rogo juga la disitu. Sini aku pegang dulu”
Dan tenpa beban aku langsung saja memberi dompet tadi ke dia.
“berapa uang kau disini?”
“seratus lempol kalau ga salah bang”
“yauda nanti pulang kau ambel sama aku”, Tanpa mengecek isinya ia memasukan dompetku ke saku celananya.
Aku mengangguk. Lalu ia menyuruh ku untuk menunggu disini. Ia berniat
memanggil sang korban. Ia memasuki lorong yang lebih kecil tepat di
sebelah warung tempat ia membeli rokok. Aku terpaku ditempat duduk yang
kududuki. Orang-orang yang berlalu lalang memperhatikan aku dengan
tatapan aneh. Risih sekali dengan tatapan mereka. Satu orang pun tidak
ada yang ku kenal dari mereka.
Kurang lebih 10 menit aku duduk.
Tiba-tiba otakku seperti baru saja datang kembali dari langit. Hal yang
pertama aku pikirkan. ‘kenapa aku disini?’. Lalu aku sadar aku ingin
menjumpai korban yang menuduhku sebagai pelakunya. Dan aku juga sadar
sedang menunggu pria misterius yang aku jumpai di eskalator Medan Fair.
Aku juga sadar beberapa menit yang lalu aku juga menyerahkan dompetku
kepadanya. Yang meniggalkanku disini, katanya beliau akan memanggil
temannya. Begitulah seingatku.
Aku bertanya kepada penjaga warung. Tempat ia membeli beberapa batang rokok tadi.
“Bang, abang kenal abang-abang yang baru aja beli rokok disini?”
“engga dek.”
“loh. Dia bukan orang sini bang?”
“bukan dek.”
Jleb. Sekarang aku baru sadar aku sedang tertipu. Aku tidak perlu
menanyakan sekitar sini ada atau tidak orang yang kepala dan perutnya
baru saja tertusuk. Aku sangat yakin itu hanya tipu daya nya.
“kenapa
dek?. Diambil uang kau? Kejarlah” , penjaga warung sekarang paham saat
melihat perubahan ekspresi wajahku yang begitu drastis.
“yaudala bang. Dalama juga dia lari. Biar yang di atas aja yang membalas”, ucapku sok tegar. Padahal hati mewek.
Selanjutnya aku hanya perlu mengingat keluar dari sini dan menjumpai
Ayub kembali. Aku menyusur gang kecil ini untuk keluar. Yang seingatku
aku tidak jauh dari Medan Plaza yang baru saja terkena tragedi
kebakaran. Aku begitu tidak sabar ingin bercerita tentang kecerobohanku
kepada Ayub. Dan setiba aku keluar dari gang.
“Astagfirullahalazim!”
Aku kaget setiba di jalan besar. Bukannya aku tidak tau aku sedang
dimana. Tapi ini sangat jauh dari apa yang aku perkirakan. Ini bukan
daerah Medan Fair atau Medan Plaza lagi. Ini di jalan besar arah mau ke
lapangan teladan medan.
Bingung. Kesal. Prustasi. Shock.
Perasaan ku campur aduk. Aku berusaha mengingat- ngingat kembali apa
yang terjadi sebelumnya. Tidak sampe pening seperti yang ada di
sinetron-sinetron. Dan akhirnya aku ingat.
Aku dan si Pria
misterius berjalan kaki cukup jauh dari Medan Fair. Lalu kami naik becak
mesin, Turun di lapangan benteng. Lalu berjalan menyusuri jalan sempit.
Kemudian naik becak mesin lagi hingga turun di gang ini.
Entah
kenapa seingatku aku begitu nyaman saat berjalan dengan nya yang
menanyakan seluruh identitasku. Aku juga ingat kami juga melewati tiga
pos polisi saat berjalan kaki. Tapi aku tidak berpikir kesitu. Aku rasa
saat itu dia bukan ancaman. Bahkan seingatku lagi dia tidak memaksa atau
mengekangku saat perjalan kemari.
Kemudaian aku naik becak
mesin yang ke tiga kalinya hari ini. Memanfaatkan sisa uang saku yang
tidak di geledahnya. Ketempat saudara yang kebetulan tidak jauh dari
sini. Dan terpikir sejenak bagaimana kabar si Ayub sekarang. Semoga saja
tidak sama denganku.
Astagfirullah. Aku begitu lemah hari itu. Dan Alhamdulillah hanya dompetku yang hilang hari itu.
***
Buat
teman-teman yang baca pengalaman singkat saya ini. Semoga lebih
berhati-hati atas penipuan modus baru seperti ini. Dan perdekatkan diri
kepada yang kuasa. Agar tidak lemah dalam keadaan seperti ini. Semoga
teman-teman selalu dilindungi oleh Allah SWT. Amin ya rabbal alamin.