Minggu, 27 September 2015

Penipuan Modus Tuduhan Pemukulan

  Based on strory. Beberapa hari lalu adalah awal bulan. Hari kebahagian seluruh masyarakat yang telah bekerja keras selama sebulan. Tidak terkecuali aku yang juga menerima gaji tepat tanggal 2 kemarin.
Dihari itu juga aku langsung membeli banyak barang yang telah kutargetkan sebeumnya. Lalu membayar utang. Dan keperluan pribadi lain-lain. Hitungan jam, upah bulanan ku sudah tinggal 150.000. Hebat!.
Ini bukan cerita tentang curhatku yang merasa gaji kurang. Jadi begini ceritanya. Sesuai dengan ikrar kami kemarin-kemarin. Aku dan teman susah senang ku ‘Ayub’. Akan pergi ke Medan Fair. Plaza yang lebih sering di sapa dengan nama Carefour. Bukan niat hangout atau hura-hura. Tujuan kami hanya Gramedia yang berada dilantai 3. 
Perjalanan kurang lebih 1 jam menaiki angkutan umum. Dan kami turun tepat di bawah jembatan penyebrangan yang telah di modif oleh pihak Medan Fair. Seperti pengunjung lainnya kami memasuki plaza itu melalui jembatan penyebrangannya. Tidak ada yang tampak berubah saat aku melirik ke kiri dan kenan. Hampir sama ketika 2 atau 3 tahun yang lalu.
Aku dan Ayub akhirnya tiba di gedung utama Medan Fair. Kami akan menaiki eskalator pertama kami. Tapi disaat dipertengahan eskalator. Seseorang memanggil ku dari arah bawah.
“bang!”, sambil menggerak kan jemari ala orang yang sedang memanggil.
Aku sendiri masih heran. Dia memanggil siapa. Tapi posisi sekarang hanya aku dan Ayub di eskalator itu. Aku pun yakin dia memanggil kami.
“adapa bang?”, tanyaku
“Yok bang kau ikut aku. Anggota kami disini ada yang bocor kepalanya. Perutnya juga ditusuk”
“kami baru nyampe. Belum sempat kami bocorin kepala orang. Apalagi nyucuk perutnya bang.”
“banyak kali cakap kau. Aku ga nuduh kau. Pokoknya kau datang dulu ke pos kami.”
Ayub terpaku mendengar dialog kami, ia tidak tau harus berkata apa.
“Kalau kata korbannya bukan kau. Yauda kau balik lagi.”, ucap pria misterius ini lagi.
Aku menimbang nimbang. Yasudahlah, kalau tidak salah kenapa harus takut. Aku pun mengangguk. Dan kami ber-3 menuruti eskalator yang baru saja kami naiki. Setelah turun dari eskalator. Si pria misterius menyuruh Ayub untuk menunggu disini saja. Alasan nya ia hanya perlu denganku sebentar saja.
Aku dan pria misterius kembali menapaki jembatan penyebrangan.
“jauh bang?”
“engga. Di belakang menplaz ini pos kami.”
“kawan aku kok ga dicurigai juga bang?”
“ia nanti ada kawan aku yang bawa dia juga. Jumpa nya kelen nanti di pos itu. Kami ada tigapuluh orang didalam gedung itu. Masing-masing bawa satu orang seumuran kau gini”
Dari sini aku udah mulai curiga. Kenapa harus satu kalau bisa dua.
“uda bang. Aku tunggu disini aja. Orang abang aja yang kemari.”
“kek k*nt*l pun kau. Sapa kali kau rupanya. Jangan –jangan memang kau yang mecahkan kepala adek2an aku.”
Sentak-an nya langsung membuatku diam.
“jangan macam-macam kau. Aku ketua disini. Kalau aku suruh orang-orang sini bacok kau. Mau bilang apa kau?”
“jangan bang. Maaf bang. iya aku ikut”
“jadi kalau mau ditolong diam. Ikutin aja. Bukan kau yang dituduh. Tapi cuman dicurigai aja. Kalau bukan kau katanya yauda ku antar lagi kau kemari naik becak mesin.”
Setelah itu entah kenapa otakku tidak bisa berpikir lagi. Aku mengikuti dia terus dengan berjalan kaki. Dia terus menanyaiku tentang namaku, agamaku, keluargaku, pendidikanku, sampai pekerjaan orang tua ku. Sampai kami tiba disebuah gang kecil. Kami duduk berhadapan di depan rumah yang entah siapa pemiliknya.
“Bentar lagi kau jumpa sama anggota-anggota aku. Kau jelasi aja kalau memang bukan kau yang ngapain”
“iya bang”
“jangan bilang kau orang belawan. Bilang aja orang brayan. Dipukulin kau nanti.”
“iya bang”
“duduk sini kau bentar. Aku beli rokok”
“iya bang”
Sampai aku tidak tahu lagi itu ‘iya bang’ yang keberapa.
“kau uda makan?”
“iya bang”
“aku tanyak kau uda makan apa belum bodoh!”
“eh belum bang.”
“uda selow kau. nanti makan kita disana”
“iya bang”
Aku diam saat ia berhenti bertanya. Aku juga gatau kenapa. Ia masih sibuk dengan hisapan rokoknya.
“Apa yang kau bawa dalam tas?”
“cuman buku bang”
Lalu ia memegang tasku. Baru percaya tasku memang berisi satu buku tulis.
“hp kau ada?”
“ga punya hp aku bang”
“dompet kau mana?”
“disini bang”, sambil menunjukan saku celanaku.
“Adoh kimaknya ni. Jangan kau letak situ. Cepat kau rondok-in. Nanti berantam aku sama kawan aku. Cuman gara-gara bela kau”
“oh iya bang.”, lalu aku mengeluarkan dompet yang tadinya di saku. Lalu memasukinya ke dalam tas.
“bodoh kali kau. Di rogo juga la disitu. Sini aku pegang dulu”
Dan tenpa beban aku langsung saja memberi dompet tadi ke dia.
“berapa uang kau disini?”
“seratus lempol kalau ga salah bang”
“yauda nanti pulang kau ambel sama aku”, Tanpa mengecek isinya ia memasukan dompetku ke saku celananya.
Aku mengangguk. Lalu ia menyuruh ku untuk menunggu disini. Ia berniat memanggil sang korban. Ia memasuki lorong yang lebih kecil tepat di sebelah warung tempat ia membeli rokok. Aku terpaku ditempat duduk yang kududuki. Orang-orang yang berlalu lalang memperhatikan aku dengan tatapan aneh. Risih sekali dengan tatapan mereka. Satu orang pun tidak ada yang ku kenal dari mereka.
Kurang lebih 10 menit aku duduk. Tiba-tiba otakku seperti baru saja datang kembali dari langit. Hal yang pertama aku pikirkan. ‘kenapa aku disini?’. Lalu aku sadar aku ingin menjumpai korban yang menuduhku sebagai pelakunya. Dan aku juga sadar sedang menunggu pria misterius yang aku jumpai di eskalator Medan Fair. Aku juga sadar beberapa menit yang lalu aku juga menyerahkan dompetku kepadanya. Yang meniggalkanku disini, katanya beliau akan memanggil temannya. Begitulah seingatku.
Aku bertanya kepada penjaga warung. Tempat ia membeli beberapa batang rokok tadi.
“Bang, abang kenal abang-abang yang baru aja beli rokok disini?”
“engga dek.”
“loh. Dia bukan orang sini bang?”
“bukan dek.”
Jleb. Sekarang aku baru sadar aku sedang tertipu. Aku tidak perlu menanyakan sekitar sini ada atau tidak orang yang kepala dan perutnya baru saja tertusuk. Aku sangat yakin itu hanya tipu daya nya.
“kenapa dek?. Diambil uang kau? Kejarlah” , penjaga warung sekarang paham saat melihat perubahan ekspresi wajahku yang begitu drastis.
“yaudala bang. Dalama juga dia lari. Biar yang di atas aja yang membalas”, ucapku sok tegar. Padahal hati mewek.
Selanjutnya aku hanya perlu mengingat keluar dari sini dan menjumpai Ayub kembali. Aku menyusur gang kecil ini untuk keluar. Yang seingatku aku tidak jauh dari Medan Plaza yang baru saja terkena tragedi kebakaran. Aku begitu tidak sabar ingin bercerita tentang kecerobohanku kepada Ayub. Dan setiba aku keluar dari gang.
“Astagfirullahalazim!”
Aku kaget setiba di jalan besar. Bukannya aku tidak tau aku sedang dimana. Tapi ini sangat jauh dari apa yang aku perkirakan. Ini bukan daerah Medan Fair atau Medan Plaza lagi. Ini di jalan besar arah mau ke lapangan teladan medan.
Bingung. Kesal. Prustasi. Shock. Perasaan ku campur aduk. Aku berusaha mengingat- ngingat kembali apa yang terjadi sebelumnya. Tidak sampe pening seperti yang ada di sinetron-sinetron. Dan akhirnya aku ingat.
Aku dan si Pria misterius berjalan kaki cukup jauh dari Medan Fair. Lalu kami naik becak mesin, Turun di lapangan benteng. Lalu berjalan menyusuri jalan sempit. Kemudian naik becak mesin lagi hingga turun di gang ini.
Entah kenapa seingatku aku begitu nyaman saat berjalan dengan nya yang menanyakan seluruh identitasku. Aku juga ingat kami juga melewati tiga pos polisi saat berjalan kaki. Tapi aku tidak berpikir kesitu. Aku rasa saat itu dia bukan ancaman. Bahkan seingatku lagi dia tidak memaksa atau mengekangku saat perjalan kemari.
Kemudaian aku naik becak mesin yang ke tiga kalinya hari ini. Memanfaatkan sisa uang saku yang tidak di geledahnya. Ketempat saudara yang kebetulan tidak jauh dari sini. Dan terpikir sejenak bagaimana kabar si Ayub sekarang. Semoga saja tidak sama denganku.
Astagfirullah. Aku begitu lemah hari itu. Dan Alhamdulillah hanya dompetku yang hilang hari itu.
***
Buat teman-teman yang baca pengalaman singkat saya ini. Semoga lebih berhati-hati atas penipuan modus baru seperti ini. Dan perdekatkan diri kepada yang kuasa. Agar tidak lemah dalam keadaan seperti ini. Semoga teman-teman selalu dilindungi oleh Allah SWT. Amin ya rabbal alamin.

4 komentar: